Tinnitus, Gejala Bunyi Berdenging Pada Telinga


Bunyi berdengung pada telinga ini disebut Tinnitus. Bukan penyakit, tetapi gejala dari kondisi kesehatan tertentu, seperti gangguan pada sistem sirkulasi tubuh, cedera telinga atau menurunnya fungsi pendengaran yang muncul karena bertambahnya usia. Tinnitus merupakan kondisi yang bisa dialami oleh semua orang dari segala usia. Meskipun begitu, gejala ini umumnya dialami oleh lansia yang berusia di atas 65 tahun.


Gejala Tinnitus
Tinnitus umumnya ditandai dengan munculnya bunyi berdenging pada telinga, tetapi bisa juga berupa bunyi berdesis, atau bahkan siulan. Bunyi ini bisa terdengar pada salah satu atau kedua telinga orang yang mengalaminya.

Sebagian besar bunyi tinnitus hanya bisa didengar oleh penderitanya. Meski demikian, terkadang ada juga yang bisa terdengar oleh dokter yang memeriksa kondisi telinga pasien.

Tinnitus umumnya bukan kondisi yang serius dan bisa membaik dengan sendirinya. Tetapi tidak ada salahnya kita tetap waspada dan memeriksakan kondisi telinga ke dokter, terutama jika:
  • Bunyi tersebut mengganggu ketenangan atau aktivitas sehari-hari, misalnya menjadi sulit tidur atau mengalami depresi.
  • Tinnitus muncul setelah kita mengalami infeksi pada saluran pernapasan atas (misalnya flu), dan tidak kunjung membaik dalam kurun waktu 7 hari.
  • Tinnitus disertai dengan pusing atau kehilangan pendengaran.
Apakah Anda Tahu?
Pacaran Saat Sekolah, Pasangan Ini Baru Bisa Menikah 64 Tahun Kemudian
Aina Gamzatova, Wanita Muslim Berhijab Yang Menantang Putin di Pilpres Rusia
Misteri Segitiga Bermuda Dan Adanya "Piramida Kristal" Di Dasarnya


Penyebab Tinnitus
Tinnitus dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Penyebabnya juga terkadang sulit diketahui dengan pasti. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab yang umumnya melatarbelakangi tinnitus:
  • Kerusakan pada telinga bagian dalam. Ini merupakan penyebab dari sebagian besar tinnitus. Pada kondisi normal, suara yang masuk ke telinga akan dikirim ke otak oleh saraf-saraf pendengaran setelah sebelumnya melalui suatu rongga berbentuk spiral yang disebut koklea. Jika terjadi kerusakan pada koklea, proses penghantaran gelombang suara akan terputus dan otak akan terus mencari sinyal dari koklea yang tersisa sehingga menyebabkan bunyi tinnitus.
  • Kehilangan pendengaran karena lanjut usia. Kepekaan saraf pendengaran akan berkurang seiring bertambahnya usia sehingga kualitas pendengaran kita akan menurun.
  • Pajanan suara atau bunyi yang nyaring, contohnya mendengar musik yang terlalu nyaring melalui earphone, pekerja pabrik yang menangani mesin-mesin berat, atau mendengar bunyi ledakan. Pajanan jangka pendek biasanya akan menyebabkan tinnitus yang bisa hilang sendiri. Sementara pajakan jangka panjang berpotensi menimbulkan kerusakan permanen.
  • Penumpukan kotoran dalam telinga. Ini akan menghalangi pendengaran dan bisa memicu iritasi pada gendang telinga akibat tumbuhnya bakteri.
  • Infeksi pada telinga bagian tengah.
  • Penumpukan cairan dalam telinga bagian tengah
  • Pertumbuhan tulang telinga yang abnormal.
  • Penyakit Meniere.
  • Penyakit Paget.
  • Cedera kepala atau leher.
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, kina, antidepresan tertentu, serta aspirin.
  • Hipertiroidisme atau hipotiroidisme.
  • Pecahnya gendang telinga.
  • Neuroma akustik.
  • Gangguan kardiovaskular, misalnya hipertensi atau aterosklerosis.

Diagnosis Tinnitus
Pemeriksaan dan diagnosis tinnitus umumnya dilakukan oleh dokter THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan). Dokter akan meminta pasien untuk mendeskripsikan jenis bunyi yang didengar, menanyakan riwayat kesehatan, mengukur tingkat keparahan tinnitus, serta memeriksa kondisi telinga pasien.

Pemeriksaan lebih lanjut yang biasanya dilakukan meliputi evaluasi pendengaran, pemeriksaan darah, CT scan, dan MRI. Rangkaian pemeriksaan tersebut adalah untuk menegakkan diagnosis sekaligus untuk mencari penyebab tinnitus.


Pengobatan Tinnitus
Tiap penderita tinnitus membutuhkan cara penanganan yang berbeda, tergantung pada faktor penyebab tinnitus. Contohnya:
  • Dokter akan mengganti obat yang digunakan jika tinnitus yang muncul merupakan efek samping dari obat-obatan.
  • Apabila penumpukan kotoran telinga terbukti menjadi pemicu tinnitus, dokter akan menganjurkan metode pembersihan telinga atau memberikan obat tetes telinga untuk mengatasinya.
Namun jika penyebab tinnitus tidak diketahui, penanganan yang diberikan bertujuan untuk menekan bunyi tinnitus semaksimal mungkin sehingga tidak mengganggu aktivitas penderita. Langkah-langkah tersebut biasanya meliputi:
  • Penggunaan alat bantu dengar.
  • Prosedur operasi.
  • Terapi suara, misalnya menggunakan bunyi-bunyi lain (seperti suara radio atau rekaman bunyi hujan) untuk menutupi bunyi tinnitus yang dialami.
  • Tinnitus retraining therapy (TRT). Dalam terapi ini, pasien akan dilatih untuk membiasakan diri dengan bunyi tinnitus yang dialami.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT) agar pola pikir penderita terhadap tinnitus bisa diubah sehingga terhindar dari stres dan depresi.
Di samping melalui terapi medis, ada juga sejumlah cara yang bisa diterapkan di rumah untuk membantu mengendalikan tinnitus. Beberapa di antaranya adalah dengan sebisa mungkin menghindari pemicu tinnitus jika penyebabnya diketahui, mendengarkan musik yang menenangkan, mencari hobi yang bisa mengalihkan perhatian, mengurangi konsumsi minuman keras, atau melakukan relaksasi (seperti meditasi dan yoga).

Belum ada Komentar untuk "Tinnitus, Gejala Bunyi Berdenging Pada Telinga"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel